Di tapal batas, antara senja yang ragu memilih gelap atau terang,
kita berdiri di garis tipis yang tak pernah sungguh memisahkan.
Di sana, jarak berubah jadi puisi
dan rindu tumbuh tanpa izin.
Kita berdiri di sana, tempat dunia berkata “cukup” namun hati berbisik “mendekatlah”.
Seakan batas hanyalah debu yang diterbangkan angin,
ketika tatapan kita berani melewati garis yang tak mampu dilihat cinta.
Pada tapal batas itu,
aku belajar bahwa jarak bisa berubah jadi puisi,
Bahwa penantian punya bahu
untuk menampung harap yang tak kunjung selesai,
seperti warna kerinduan yang menetes dari “antara” menuju “kembali”.
Dan jika esok kita lagi-lagi dipisahkan oleh garis lain,
ketahuilah, setiap batas hanyalah peta yang akan selalu menuntun langkahku-
pulang kepadamu.
-Bbma