Entah sudah berapa kali kata “melawan” menjadi mantra yang bisa memberdayakan keberanian, mendisiplinkan pikiran, dan mendobrak struktur yang menindas. Jika dihitung, jumlahnya tentu tak terhingga. Dan begitu pula dengan rentetan kekalahannya yang selalu membuntuti.
Hari ini, melawan penindasan sekadar menjadi seruan yang heroik di tengah kekerasan negara yang sudah menjadi camilan sehari-hari. Dari kata melawan, berbagai gerakan yang itu-itu saja dirancang lalu dibangun. Musuhnya tetap sama: penindasan yang lahir dari rahim negara.
Namun, meski gerakan perlawanan berhasil dirancang dan dibangun dengan hebat, sebelum dapat menyentuh sang musuh, kau tak sadar bahwa sang musuh sudah lebih dulu menyentuhmu dan menggali liang kuburmu yang berupa kenyataan-kenyataan getir. Jadi, untuk apa sebenarnya kita melawan? Kalau gerakan perlawanan masih saja seperti itu, lebih baik kita sudahi saja gerakan perlawanan!
Penyakit Kronis Gerakan Perlawanan
Sadar atau tidak, gerakan perlawanan kita hari ini pada dasarnya sudah terjangkit penyakit kronis: romantisme heroisme gerakan perlawanan di masa lalu dan glorifikasi yang terlampau berlebihan.
Sebelum itu, mari kita bahas soal meromantisasi gerakan perlawanan masa lalu. Yang dimaksud meromantisasi dalam hal ini adalah gerakan yang selalu mendambakan kejayaan masa lalu. Karena gerakan kita bertumpu pada kekuatan mahasiswa, maka kejayaan yang dimaksud adalah pada masa penggulingan Soekarno pada tahun 1966 dan penggulingan Soeharto pada tahun 1998. Dua momen tersebut sering dianggap sebagai kejayaan gerakan perlawanan.
Akan tetapi, benarkah begitu? Kenyataannya memang benar. Namun, karena benar, kita jadi sering berfokus pada satu titik tumpu dan mengaburkan titik-titik penting yang lain. Tumpuan kita hingga hari ini adalah kampus, di mana mahasiswa selalu dipandang sebagai garda terdepan perlawanan. Memang, kekuatan mahasiswa dalam konteks ilmu pengetahuan sangat membantu. Mereka bisa menjadi arsitek pertempuran jalanan hingga tukang melucuti ketololan penguasa.
Namun, kita melupakan bagaimana massa itu terbentuk justru dari keberagaman elemen, di mana yang bergerak sejatinya bukan cuma mahasiswa, tetapi juga elemen masyarakat yang lain. Ini artinya, kejayaan gerakan perlawanan kita tidak akan pernah berhasil tanpa adanya massa yang beragam itu. Mahasiswa tentu memiliki kelebihan dalam menganalisis, tetapi elemen lain seperti buruh dan masyarakat miskin kota juga mempunyai peran yang vital.
Pengabaian terhadap keberagaman massa dan terlalu fokus pada kekuatan mahasiswa membuat gerakan perlawanan kita selalu berputar pada metode-metode yang usang. Metode usang yang dimaksud adalah gerakan damai, memakai almamater sepanjang aksi, membawa bendera ormek, dan menyiapkan tuntutan aksi, sampai orasi para pentolan gerakan setiap kampus. Itu baru yang terlihat di muka. Yang tak terlihat adalah bagaimana aksi dirancang melalui konsolidasi yang muncul cuma setiap ada isu viral, menunggu arahan senior di organisasi ekstra maupun internal untuk turun ke jalan, bahkan sampai kompromi para koordinator aksi dengan aparat.
Kita baru bergerak jika mahasiswa mulai bergerak. Kontrol atas metode yang terlalu sentralistik pada mahasiswa berimplikasi pada matinya kreativitas dan kebebasan elemen lain dalam mengekspresikan bentuk perlawanannya. Hal ini pada gilirannya akan membuat gerakan perlawanan yang seharusnya menggandeng keberagaman bentuk ekspresi menjadi sangat bergantung pada elemen mahasiswa.
Ketergantungan ini sebetulnya cukup wajar kalau kita mau mengingat kejayaan gerakan perlawanan di masa lalu. Namun, jika kita mau menguliti sedikit lebih dalam, sebetulnya kejayaan yang diperoleh gerakan perlawanan di masa lalu tak seheroik yang diutarakan media arus utama. Kita ambil dari dua momen bersejarah saja.
Pada tahun 1966, media arus utama hingga kini menganggap angkatan mahasiswa ’66 menjadi pelopor penggulingan Presiden Soekarno. Padahal, konteks historis pada masa itu terlalu kompleks. Gerakan perlawanan saat itu justru tidak akan mengalami keberhasilan apabila tidak ada intervensi dari kubu militer. Setelah masa transisi, rezim Orde Baru yang dibidani gerakan mahasiswa justru tak ada bedanya dengan rezim penindas yang lama.
Kemudian, pada tahun 1998, perbincangan media arus utama hingga kini selalu berkutat pada pencapaian mahahebat mahasiswa yang menduduki Senayan dan meruntuhkan 32 tahun masa kediktatoran Soeharto. Lagi dan lagi, fokus hanya berkutat pada mahasiswa, padahal elemen yang lain seperti buruh dan rakyat miskin kota juga turut andil dalam perlawanan. Ini membuktikan gerakan perlawanan kala itu tidaklah sepenuhnya heroik seperti yang dinarasikan.
Narasi-narasi mahadahsyat inilah yang selalu bergema hingga sekarang, yang kemudian sering kali dijadikan mantra dalam setiap gerakan perlawanan: hidup mahasiswa! Mantra terus diudarakan, sementara itu buruh, petani, dan masyarakat miskin kota dipandang sebagai subjek yang pasif. Pada akhirnya, gerakan yang seharusnya beragam menjadi tampak mewah; massa yang terbentuk hanya membersamai nama-nama atas almamater.
Mau Reaktif Sampai Kapan?
Semua hanya mendambakan gerakan yang romantik dan heroik. Inilah alasan mengapa penguasa selalu berhasil membaca gerakan kita: membaca metode gerakan yang begitu-begitu saja, membaca glorifikasi berlebihan pada mahasiswa, dan kemudian membaca ketergantungan kita yang begitu kuat.
Penyakit kronis itu pada akhirnya membawa kita pada perasaan yang menganggap gerakan ini terlalu berat dan melelahkan. Kita tidak pernah sadar bahwa gerakan kita sudah mudah dibaca. Di samping itu, yang parah, gerakan kita terlalu reaktif—hanya muncul sesekali jika ada isu-isu yang viral di lini masa media sosial.
Di tengah kekerasan negara, kita hanya bisa selalu mengutuk. Membuat postingan di media sosial dengan caption tampak heroik: polisi pembunuh, reformasi Polri, selamat datang neo-Orba, hingga kutukan-kutukan pedas yang hanya numpang lewat di telinga para pejabat.
Selain mengutuk, kita juga baru bergerak kalau ada isu yang viral. Setelah isu-isu viral itu tenggelam, kita pun melupakannya, alih-alih membuat rencana menyerang balik atau membuat serangan langsung tanpa menunggu negara blunder menampilkan kejahatannya.
Sudahi saja?
Samir Amin, seorang Marxis dari Mesir, dalam wawancaranya Globalisasi dan Alternatifnya, menyebut gerakan perlawanan semacam ini sebagai gerakan defensif. Sebuah gerakan yang membiarkan sistem kekuatan monopoli kapital untuk terus bergerak lebih dulu. Ini artinya, kita membiarkan negara membaca gerakan kita. Lalu, harusnya seperti apa?
Samir Amin lebih lanjut mengatakan bahwa kita harus segera membalikkan relasi kuasa dan mengupayakan gerakan-gerakan positif, yakni gerakan yang ofensif. Ini artinya, kita tidak boleh hanya menunggu negara blunder menampilkan kesalahannya lalu baru bergerak. Justru sebaliknya, kita mesti merebut kendali permainan itu dengan bergerak lebih dahulu sebelum negara melakukan blunder.
Jadi, gerakan perlawanan kita sudah saatnya berevolusi menjadi lebih agresif. Hegemoni penguasa mungkin begitu kuat sehingga kerap membuat kita kelelahan. Namun, kalau kita hanya duduk sambil menangis dan mengutuk tiada hentinya, kita akan segera menemui ajal. Ya, beginilah kenyataannya. Kalau tidak mau berubah, lebih baik kita sudahi saja gerakan perlawanan. Kita sudahi saja seruan omong kosong melawan penindasan.
Oleh: Soy La Pesadilla