Dekonstruksi Jubah Kekuasaan
Lucuti aku,
bukan dari helai kain yang melindungi kulitku,
tapi dari segala label yang kalian jahit di atas tubuhku.
Lucuti aku dari definisi “pantas” yang kalian ciptakan,
dari kata “sabar” yang kalian jadikan rantai di pergelangan.
Lihatlah ketidakadilan itu.
Ia kini memakai baju yang semakin tebal.
Ia memakai jas birokrasi, seragam tradisi, dan jubah suci,
berlapis-lapis hingga kulit kebenarannya tak lagi teraba,
hingga nuraninya tenggelam dalam lipatan kain kemunafikan yang licin.
Kalian membungkus penindasan dengan sutra kata-kata,
agar tangan kami yang kasar karena kerja tak bisa menyentuh akarnya.
Kalian memberi baju baja pada diskriminasi,
agar teriakan kami memantul
dan dianggap hanya sekadar bising.
Maka, lucuti aku dari ketakutan ini.
Biarkan aku berdiri polos di depan cermin sejarah.
Sebab hanya dengan menanggalkan beban identitas pemberianmu,
aku bisa melihat betapa kurusnya keadilan yang kalian beri makan,
dan betapa gemuknya ego yang kalian beri pakaian.
Aku menolak menjadi sepi yang dibungkus rapi.
Aku adalah kulit yang meradang,
yang menuntut sentuhan kebenaran.
Robek jubah tebal yang membentengi kalian dari rasa bersalah,
sebab di bawah tumpukan kain yang megah itu
kalian hanyalah kehampaan yang gemetar dalam ketakutan.
OLEH : BBMA