Langit hari ini terjalin seperti biasanya. Angin pun demikian. Kehidupan masih berjalan pada garisnya.
Engkau masih melihat polusi yang bukan ilusi. Tiupan halus dari angin yang seharusnya membuat kita remuk dan ingin tertidur, berganti menjadi hawa yang gersang, sehingga keringat terus mengungsi keluar dari kulit. Ternyata kehidupan masih berjalan pada garisnya.
Kita sampai pada rotasi bumi yang menghilangkan siang, menggantinya menjadi malam. Di suatu lorong sempit dan gelap, tikus-tikus keluar mencari makan. Ternyata kehidupan masih berjalan pada garisnya.
Merasakan hal ini tidak membuat kita lupa bahwa rotasi bumi yang terus terjadi tidak pernah mengubah apa-apa. Tentang mereka yang tidak pernah takut pada sangkakala, yang menjual kata-kata sumpah di bawah Taurat, atau menjual keindahan senja hanya dengan tanda tangan. Tetap saja demikian, mereka adalah orang-orang pilihan kita yang tugasnya membawa rasa sakit dan terus berotasi. Ternyata kehidupan masih berjalan pada garisnya.
Katakan pada tikus yang kau temui di lorong gelap dengan sudut yang runcing untuk tidak menghabiskan sisa kehidupan yang masih berjalan. Kau bisa membayangkan bagaimana cinta akan tumbuh dengan rasa sakit?
Kehidupan masih berjalan pada garisnya, di mana orang-orang mempertahankan tanahnya dengan air mata dan darah, tetapi dikalahkan oleh cekikan undang-undang yang rindang, hijaunya nafsu kekuasaan, dan suburnya eksploitasi yang kekal. Kau sebut dengan kejahatan? Jangan hilangkan nyawamu dengan sebutan itu, karena “kacang hijau” berpangkat akan menelusuri bahasamu dengan tuduhan pembangkang, atau “si cokelat pengayom” akan menggilasmu dengan kuda beroda baja. Bahkan akan menceraikan matamu dengan zat korosif yang bertumpahan di matamu, sampai kau tidak mengenali mana air mata dan mana mata air.
Kehidupan masih berjalan pada garisnya. Petani akan tetap lapar walaupun setiap hari menanam, dan nelayan akan tetap tenggelam walau tidak melaut. Yang dilihat mereka adalah suburnya saku pejabat, bertambahnya kawasan pertambangan, dan air laut yang keruh akibat liur yang dihasilkan dari kebohongan pejabat saat meminang suara.
Kehidupan masih berjalan pada garisnya. Kita berharap, di ujung garis, kita bisa bertemu bersama mereka dan menempati neraka.
Editor : Aksara Raya
Penulis : Pagman