Oleh : BBMA
Di ruangan berpendingin,
di meja-meja berlapis kayu emas,
kebijakan dilahirkan
seperti anak emas pembangunan.
Hutan direduksi menjadi angka,
sungai dijadikan grafik,
dan bumi yang seharusnya ibu
diturunkan derajatnya menjadi objek rapat.
Wajahnya hancur,
retak di sela gunung yang dipapas,
tanah dikeruk tanpa jeda.
Dan keserakahan ditulis rapi sebagai rencana kerja.
Jeritannya sesungguhnya menggelegar
bersuara lewat banjir yang datang tanpa permisi,
lewat longsor yang runtuh di tengah doa,
lewat laut yang perlahan menelan ingatan pesisir.
Namun kita tak melihat,
mata kita sibuk menatap laporan;
luka seluas cakrawala
tampak seperti debu biasa.
Karena angka lebih dipercaya daripada tangisan.
Namun kita tak mendengar,
telinga kita telah dipadatkan
oleh pidato dan peresmian,
oleh tepuk tangan yang membungkam nurani sendiri.
Namanya tetap disebut: “kemajuan.”
Pita dipotong, tepuk tangan memenuhi udara,
sementara akar-akar tercerabut
seperti harapan yang tak sempat tumbuh,
dan masa depan digadaikan sebelum sempat berakar.
Seakan sunyi telah membekapnya:
sunyi yang dilegalkan,
sunyi yang disahkan,
sunyi yang ditandatangani di atas penderitaan.
Dan bumi, dengan napas yang tersiksa,
masih bertahan
meski kita terus menindasnya
atas nama masa depan,
masa depan yang bahkan tak lagi mengenali siapa ibunya.