
Banyak suara bergema, meminta keadilan,
namun disumbat oleh moncong senjata.
Suara-suara itu tumbuh seperti belati,
menanam gelisah di setiap jengkal tanah.
Mereka hanya memohon segumpal kebebasan,
dan sepetak keabadian untuk tetap merdeka.
Namun, barisan senjata menculik demokrasi,
melenyapkan Pancasila hingga melahirkan penjajah.
Tulisan ini lahir dari luka yang tak kunjung sembuh dari Wadas hingga Maba Sangaji. Perampasan ruang hidup masyarakat adat, diskriminasi, dan kekerasan aparatur sipil bukan sekadar keluhan fenomena semata, melainkan seruan agar negara sebesar Indonesia kembali mendengar suara rakyatnya sendiri. Di balik setiap kata, ada tanah yang dirampas, ada suara yang dibungkam, dan ada air mata yang mengalir bersama keyakinan bahwa keadilan tidak boleh kalah oleh kuasa. Antara Suara dan Senjata adalah pengingat bahwa demokrasi bukan hanya tentang pesta politik mencari suara untuk kursi kekuasaan yang kemudian berlanjut pada penjajahan lokal, tapi tentang ruang hidup yang dijaga oleh keberanian orang-orang kecil di tanahnya sendiri.
Penulis : Jorly Tindage
Editor : Aksara Raya