Dari Galela hingga Patani, konflik berulang menunjukkan rapuhnya nalar publik dan kuatnya provokasi identitas. Peristiwa bentrok antarwarga di Halmahera baik di Galela, Halmahera Utara yaitu Desa Duma dan Desa Kira, maupun di Patani, Halmahera Tengah Desa Banemo dan Desa Sibenpope kembali menunjukkan satu hal yang mengkhawatirkan betapa rapuhnya nalar publik kita ketika berhadapan dengan emosi dan isu identitas.
Di tengah dunia yang semakin maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat justru masih mudah diguncang oleh provokasi yang dangkal. Lebih parah lagi, konflik yang pada awalnya bersifat personal dengan cepat berubah menjadi konflik komunal, bahkan dibungkus dengan narasi agama. Ini bukan sekadar masalah sosial biasa. Ini adalah kegagalan kolektif dalam berpikir.
Konflik Individu Yang Meluap Ke Masyarakat
Kasus di Galela menjadi contoh nyata. Sebuah persoalan individu yang seharusnya bisa diselesaikan secara hukum berubah menjadi konflik antar desa. Narasi yang berkembang pun sangat problematik: “orang Kristen memukul orang Islam” atau sebaliknya.
Narasi seperti ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berbahaya. Ia menggeser fokus dari pelaku individu menjadi identitas kolektif. Akibatnya, yang diserang bukan lagi orang yang bersalah, melainkan seluruh kelompok yang tidak tahu apa-apa. Di titik ini, kita tidak lagi berbicara tentang keadilan, melainkan tentang pelampiasan emosi yang dibungkus dengan identitas. Padahal, tidak ada satu pun ajaran agama yang membenarkan kekerasan. Yang terjadi hanyalah tindakan segelintir oknum dengan watak premanisme, yang kemudian menyeret agama sebagai tameng.
Maraknya tindakan Premanisme
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh subur di lingkungan yang minim interaksi sosial yang sehat. Di banyak desa, ruang pertemuan antar pemuda semakin terbatas. Tidak ada kegiatan kolektif yang membangun hubungan emosional lintas kampung. Tidak ada ruang untuk saling mengenal sehingga mengakibatkan kawasan identitas menjadi sempit.
Dalam situasi seperti ini, sedikit gesekan saja bisa menjadi pemicu konflik besar. Karena yang berhadapan bukan lagi individu, tetapi kelompok yang tidak saling mengenal. Sebaliknya, jika hubungan sosial dibangun melalui kegiatan bersama seperti kegiatan olahraga, budaya, atau kerja sama lintas agama, maka konflik semacam ini akan jauh lebih mudah diredam karena saling mengenal.
Krisis Kepercayaan terhadap Hukum
Konflik di Patani dipicu oleh penemuan mayat seorang warga. Namun alih-alih menunggu proses hukum, masyarakat justru memilih menuduh dan bertindak sendiri. Bentrok pun tak terhindarkan rumah dibakar, korban berjatuhan.
Mengapa ini terjadi?
Salah satu jawabannya adalah kegagalan penanganan kasus sebelumnya. Ketika peristiwa serupa tidak mampu diungkap secara tuntas, kepercayaan publik runtuh. Masyarakat merasa hukum tidak hadir. Dan ketika hukum tidak dipercaya, maka kekerasan menjadi pilihan. Namun, perlu ditegaskan hilangnya kepercayaan terhadap aparat tidak pernah bisa menjadi legitimasi untuk main hakim sendiri. Kekerasan tidak pernah menjadi solusi, ia hanya memperpanjang rantai masalah.
Bahayan Isu SARA
Baik di Galela maupun Patani, satu pola yang sama selalu muncul konflik dengan cepat diarahkan ke isu SARA. Ini adalah bagian dan adegan paling berbahaya. Ketika konflik sudah dibingkai sebagai konflik agama maka yang terjadi adalah runtuhnya Rasionalitas, emosi kolektif meningkat, dan ruang dialog untuk menyelesaikan masalah tertutup. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi tidak penting. Yang penting adalah siapa “kita” dan siapa “mereka”. Padahal, dalam banyak kasus, konflik tersebut hanya melibatkan segelintir individu.
Peran Desa untuk mewujudkan Transformasi Sosial
Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah desa tidak boleh hanya berfungsi sebagai pengelola administrasi, tetapi harus menjadi aktor utama dalam membangun kohesi sosial. Investasi terbesar harus diarahkan pada pemuda:
- Menciptakan kegiatan kolektif
- Membangun ruang interaksi lintas desa
- Menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal
Selain itu, praktik toleransi harus dibangun secara nyata, bukan sekadar slogan. Misalnya, kerja sama pengamanan dalam kegiatan keagamaan antar kelompok. Langkah-langkah sederhana seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar seruan moral.
Memilih Akal Sehat di Tengah Provokasi
Peristiwa di Halmahera adalah peringatan keras bagi kita semua, bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih bijak, bahkan dengan kemajuan teknologi masyarakat bebas menyebarkan berita profokatif selain itu kurangnya akses pendidikan formal tanpa penguatan nilai sosial tidak cukup untuk mencegah konflik. Dan bahwa identitas, jika tidak dikelola dengan baik, bisa menjadi alat perusak yang sangat kuat.
Kita harus belajar untuk tidak mudah terprovokasi, tidak mudah menggeneralisasi, dan tidak mudah menyeret agama ke dalam konflik yang bukan miliknya. Karena pada akhirnya, setiap konflik yang dibiarkan tumbuh dari emosi hanya akan meninggalkan satu hal penyesalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.