Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di Kota Nyiur Melambai, saya, seorang pemuda Pulau Taliabu, menapaki perjalanan hidup sebagai pelajar perantau yang datang dari sebuah daerah kepulauan yang jauh dari pusat pembangunan. Saya membawa harapan besar yang dititipkan oleh keluarga dan kampung halaman.
Bagi saya, merantau bukan hanya sekadar meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu dan mendapatkan gelar, tetapi juga sebuah perjalanan panjang untuk menemukan makna tanggung jawab sebagai anak daerah. Setiap langkah di tanah rantau menjadi pengingat bahwa pendidikan yang saya tempuh bukan hanya untuk diri saya seorang, melainkan untuk masa depan masyarakat di tanah kelahiran saya.
Suatu malam yang tenang di sudut Kota Manado, saya duduk bersama seorang ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), sosok pemuda progresif dan tekun di bidangnya yang dikenal dengan sapaan Bung Roy. Percakapan kami mengalir sederhana, namun sarat makna. Kami membahas berbagai macam lowongan pekerjaan agar bisa bertahan hidup di Kota Manado ini dengan segala dinamika yang akan kami lewati.
Di antara canda riang dan secangkir kopi, pembicaraan perlahan mengarah pada kenangan tentang kampung halaman kami, Pulau Taliabu—tentang laut yang luas, desa yang sederhana, serta masyarakat yang hidup dengan segala keterbatasan. Kami menyadari bahwa di balik keindahan alam yang dimiliki tanah kami, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari akses pendidikan hingga infrastruktur pembangunan.
Hal tersebut menjadi kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. Belum lagi saat ini muncul isu-isu terkait eksploitasi tambang yang dilakukan di tanah kami, yang telah disetujui sebanyak 21 titik. Jalan lingkar yang dijanjikan pemerintah selama bertahun-tahun pun tak kunjung diselesaikan. Bertahun-tahun sejak Pulau Taliabu dimekarkan, daerah kami justru menjadi kabupaten yang paling termarginalkan oleh pemerintah provinsi, ditambah lagi dengan ketidakseriusan pemerintah daerah dalam mengurusnya. Hingga kini, peluang ekonomi bagi kami, generasi muda Pulau Taliabu, masih menjadi tanda tanya besar.
Percakapan itu kemudian berubah menjadi refleksi yang lebih dalam. Kami berbincang tentang mimpi dan harapan yang tumbuh sejak pertama kali kami meninggalkan kampung halaman. Bagi kami, merantau bukan sekadar mencari masa depan yang lebih baik di kota, melainkan mempersiapkan diri untuk suatu hari kembali dan mengabdi.
Bung Roy dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa generasi muda dari daerah harus berani bermimpi besar, sebab perubahan tidak akan datang jika tidak dimulai dari kesadaran anak-anak daerah itu sendiri. Kata-kata itu terasa sederhana, namun mengandung semangat yang membakar tekad saya.
Bagi saya yang lahir dari tanah Taliabu, percakapan malam itu menjadi pengingat yang kuat tentang tujuan perjalanan hidup saya kelak. Saya menyadari bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Dalam gambaran itu, saya bisa membayangkan suatu hari nanti saya dan para pemuda lainnya kembali ke kampung halaman dengan gagasan, pengetahuan, dan semangat baru untuk memberdayakan masyarakat serta membuka peluang bagi generasi berikutnya agar tidak lagi merasa tertinggal.
Malam itu mungkin hanya percakapan singkat antara dua saudara di tanah rantau. Namun di balik percakapan yang hangat itu tersimpan sebuah mimpi besar—mimpi tentang kembalinya anak-anak daerah untuk membawa perubahan bagi tanah kelahiran kami.
Dari sudut Kota Manado, harapan itu tumbuh perlahan, seperti api kecil yang terus dijaga agar tetap menyala. Sebab bagi kami, Pulau Taliabu bukan sekadar tempat asal, melainkan rumah yang suatu hari nanti harus kami bangun kembali dengan semangat, ilmu, dan pengabdian.
OLEH : GUAN NUGRAH