Dingin terasa mencekam,
hanya ditemani langkah kaki
yang selalu memberi cap pada bumi,
bukan sebagai tanda pernah di sini.
Namun,
hanya sebagai bekas pengingat
bahwa jalan yang ia lalui
hanyalah jalan panjang yang kosong,
yang berarah maju namun tak pernah memiliki tujuan.
Sendiri.
Ia benar-benar sendiri.
Bahkan degup jantungnya
terdengar begitu jelas bagai petir
yang memecah di tengah derasnya hujan.
Ia melangkahkan kakinya semakin menjauh,
seakan tak lagi mengenal dirinya sendiri.
Bahkan namanya mulai runtuh,
perlahan hilang dari ingatannya.
Kepada alam,
sang penunjuk peta tanpa arah.
Kepada sang waktu
yang terus berputar tanpa henti.
Tuntunlah ia,
tunjukkanlah ia cahaya yang mengarah pada pulang,
sebelum tak ada lagi jalan kembali,
sebelum kegelapan benar-benar melahapnya
dan tak menyisakan jejak untuk pulang.
Oleh: BBMA