Kau bilang ini rumah, tapi pintu tak pernah terbuka.
Kau bilang ini jalan, tapi kakiku digergaji stempel demi stempel.
Kau bilang ini sistem, tapi yang kulihat hanya ular-ular kertas
yang melingkar di leher rakyat lalu pura-pura mati.
Berapa kali harus kukencingi formulir-formulirmu
sebelum kau sadar bahwa kami bukan ternak yang antre rumput?
Tuhan, lihatlah mereka: para pengunyah waktu,
duduk manis di balik meja yang tak pernah hangat oleh peluh,
menjilat prosedur sambil meludahi asa,
bertelur ribuan surat tapi tak satu pun menetas jadi keadilan.
Kantor-kantor itu bukan gedung, melainkan monumen tidur.
Dan mereka, para penjaga monumen, begitu mahir
menyusun kata-kata yang tak pernah sampai,
membentuk janji setipis tisu toilet,
hanya berguna saat rakyat terdesak, lalu dibuang.
Birokrasi, kau sundal bermuka banyak!
Sekali di depan kamera kau elus perut rakyat,
sekali di belakang kau cakar habis-habisan.
Kau bikin orang miskin harus sekolah antre S3
hanya untuk bertemu kepalamu yang kosong melompong.
Dan saat rakyat akhirnya menerobos pagar,
kau teriak: “ANARKIS!”
Padahal anarki sejati adalah kau sendiri,
yang selama ini menjadikan negara permainan ular tangga;
rakyat main, kau yang punya dadu.
Suatu hari nanti,
ketika mesin antreanmu berkarat oleh waktu,
dan stempel-stempelmu tercerai-berai dimakan lupa,
rakyat akan tetap di sini,
mengingat bagaimana kau mengajari mereka
untuk tidak percaya pada kata-kata yang tak berani jadi nyata.
Birokrasi,
kau bukan pelayan, kau penghadang.
Kau bukan jembatan, kau jurang yang dipoles cat.
Dan jika kelak sejarah menulis tentangmu,
biar kutulis sendiri:
Di sini pernah berdiri kerumunan tembok,
dan di hadapannya, rakyat yang tak pernah jemu menggedor.
-Bbma