Mengapa Sekolah Harus Dibubarkan?
Ketika seseorang mendengar judul buku “Sekolah Dibubarkan Saja!” karya Chudiel, banyak yang refleks terkejut, bahkan menuduhnya provokatif. Namun, di balik kalimat yang terdengar seperti ajakan untuk menghancurkan institusi pendidikan itu, tersimpan kegelisahan yang lebih dalam: apakah sekolah masih menjadi ruang pembebasan, atau telah berubah menjadi ruang penjinakan manusia?
Pertanyaan itu lahir dari kenyataan yang kita saksikan hari ini bahwa sekolah, dari taman kanak-kanak hingga universitas, telah kehilangan sebagian jiwanya. Ia masih mengajarkan membaca, menulis, berhitung, tapi semakin jarang mengajarkan berpikir, merasa, dan berperilaku manusiawi.
Kita hidup di zaman ketika pengetahuan bertambah, tapi kebijaksanaan menipis; gelar akademik menjamur, tapi kejujuran menjadi langka. Dari rahim lembaga pendidikan lahir para pejabat yang rakus, intelektual yang manipulatif, dan teknokrat yang merencanakan eksploitasi lingkungan dengan rumus canggih. Maka wajar bila muncul suara getir: “Apakah sekolah telah memelihara dosa?”
Sistem yang Menjinakkan
Sekolah dalam bentuk modernnya adalah sistem dan seperti sistem lain, ia memiliki tujuan yang kadang tak disadari oleh penghuninya. Sejak masa kolonial, model pendidikan di negeri ini memang dirancang untuk menjadi mesin reproduksi ketertiban dan kepatuhan. Anak-anak diajari untuk tunduk pada otoritas, mengejar nilai, dan mematuhi kurikulum yang sering tak punya hubungan dengan kehidupan nyata mereka.
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas) menyebut ini sebagai “banking system of education” di mana guru adalah pemberi dan murid adalah penerima. Pengetahuan ditransfer seperti uang disetor ke rekening, tanpa dialog, tanpa pengalaman, tanpa refleksi.
Sementara Ivan Illich dalam Deschooling Society menambahkan, sekolah telah berubah menjadi “lembaga monopoli belajar,” seolah-olah hanya yang duduk di bangku kelaslah yang berhak disebut berilmu.
Dan sistem ini bekerja bukan hanya di tingkat SD, SMP, atau SMA. Ia merembes hingga ke kampus, ruang dosen, dan seminar ilmiah. Mahasiswa sering kali hanya menjadi penghafal teori, bukan penemu makna. Yang lebih parah, organisasi mahasiswa sebut saja Badan Eksekutif dan jajaran organisasi lainnya kerap dipaksa tunduk pada aturan yang seharusnya justru mereka kritisi. Mereka tidak berani mengekspresikan gagasan secara bebas kepada kampus atau dosen, karena takut dianggap sebagai pemberontak, atau khawatir kehilangan popularitas dan posisi.
Sementara di sisi lain, banyak dosen terjebak dalam birokrasi akademik menulis bukan lagi untuk mencerahkan, melainkan demi memenuhi target administrasi dan kredit poin kenaikan pangkat.
Maka, dari hulu ke hilir, pendidikan berubah menjadi ritual administratif ijazah menjadi simbol keselamatan, bukan kebenaran. Nilai dan sertifikat menjadi semacam “surat pembebasan dosa,” walau perilaku sosial lulusan-lulusannya sering justru memperpanjang rantai ketidakadilan.
Menerka Manusia Standar
Dalam sistem yang demikian, lahirlah apa yang disebut “manusia standar” mereka yang dianggap berhasil jika sesuai dengan ukuran sekolah tinggi nilai, fasih bicara, terampil membuat laporan, dan pandai menjawab ujian. Namun di balik itu, banyak manusia yang kehilangan keberanian untuk berpikir sendiri, bahkan untuk tidak setuju. Sekolah melatih manusia untuk berlomba, bukan bekerja sama. Ia mengajarkan kebenaran tunggal, bukan dialog. Ia menanamkan rasa takut salah, bukan keingintahuan.
Dan dari situ, terbentuklah struktur sosial yang percaya bahwa kepintaran adalah jalan menuju kuasa. Mereka yang berada “di atas standar” merasa lebih pantas memerintah, sementara yang “di bawah standar” dianggap tak layak bicara. Inilah yang secara perlahan melahirkan penjajahan baru oleh kaum terdidik atas masyarakatnya sendiri.
Melahirkan Penindas Baru
Seringkali kita berpikir, orang yang berpendidikan pasti beradab. Namun sejarah membantahnya. Koruptor yang lihai menyembunyikan uang rakyat adalah lulusan universitas.
Pengusaha yang menebang hutan untuk kepentingan pribadi adalah orang yang mengerti tentang ekologi. Bahkan para pengatur sistem yang merencanakan eksploitasi manusia dan alam, seringkali adalah mereka yang hafal teori keadilan sosial dari buku teks kuliah. Sekolah telah gagal mendidik hati. Ia sibuk menajamkan logika, tapi membiarkan nurani tumpul. Ia memproduksi kecerdasan teknis, tapi tidak mengajarkan tanggung jawab moral.
Maka lahirlah paradoks yang mengatakan bahwa “orang yang tahu segalanya, tapi lupa apa artinya menjadi manusia”. Inilah dosa yang secara diam-diam dipelihara oleh sistem pendidikan kita, karena membiarkan pengetahuan terpisah dari kebijaksanaan, dan kecerdasan tercerai dari kejujuran.
Dosa yang Terlembagakan
Dosa itu bukan terjadi karena guru jahat atau siswa malas, tapi karena sistem yang membangun ilusi bahwa pendidikan adalah segala-galanya. Padahal pendidikan yang kehilangan empati hanya akan melahirkan profesional tanpa moral. Di sinilah dosa itu menjadi struktural, terlembaga di setiap peraturan, kurikulum, dan prosedur akademik. Sekolah tidak lagi menjadi taman belajar, tapi pabrik manusia yang siap melayani sistem ekonomi dan kekuasaan. Ia bukan lagi tempat menemukan diri, tapi tempat menyesuaikan diri.
Sakramen Sekolah Menebus Dosa
Namun, memelihara dosa tidak berarti kita harus membubarkan sekolah secara fisik. Justru kita harus membebaskannya dari sistem yang membuatnya kehilangan jiwa. Membubarkan sekolah berarti membubarkan cara berpikir yang menjadikan pendidikan sebagai mesin, bukan proses kemanusiaan. Sekolah harus kembali menjadi ruang di mana anak dan guru sama-sama belajar menjadi manusia. Mahasiswa harus kembali pada pencarian makna, bukan sekadar gelar. Dosen harus menyalakan keingintahuan, bukan menumpuk publikasi jurnal penelitian. Pendidikan yang menebus dosa adalah pendidikan yang menghubungkan ilmu dengan kasih, pengetahuan dengan tanggung jawab, dan kecerdasan dengan keberpihakan. Ia bukan melahirkan manusia pintar, tapi manusia yang sadar bahwa kepintarannya adalah alat untuk menyejukkan bumi dan sesama.
Kesimpulan
Mungkin benar kata Chudiel bahwa kadang sekolah perlu “dibubarkan” untuk bisa lahir kembali. Bukan dibakar gedungnya, tapi dinyalakan kembali rohnya dan disadarkan kembali maknanya.
Karena sekolah sejatinya bukan tempat mengumpulkan nilai, tapi lokasi subur untuk menanam nilai. Dan jika ia telah melahirkan penindas baru dan kita hadir sebagai penindas itu, maka dosa itu bukan milik sekolah semata, tapi milik kita semua para manusia yang lupa bahwa belajar adalah proses menjadi bijak, bukan sekadar menjadi pintar.
Penulis : Jorly Tindage
Editor : Aksara Raya