
Pendahuluan
Dalam sejarah filsafat Yunani Kuno, pembahasan mengenai kebahagiaan (eudaimonia) selalu menjadi fokus utama para pemikir. Salah satu tokoh paling berpengaruh adalah Epicurus (341–270 SM), pendiri aliran Epikureanisme, yang menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan tertinggi kehidupan manusia. Namun, konsep kebahagiaan versi Epicurus kerap disalahpahami karena dikaitkan dengan istilah hedonisme, yang dalam konteks modern sering diartikan sebagai gaya hidup mewah, pesta pora, dan pemuasan nafsu duniawi. Padahal, bagi Epicurus, hedonisme sejati adalah pencarian kesenangan yang rasional, alami, dan menuntun manusia pada ketenangan jiwa.
Menariknya, semangat serupa tentang hidup yang sederhana dan tenang juga muncul dalam bentuk berbeda, yaitu melalui karakter fiksi Jepang Shikamaru Nara dari serial Naruto. Dikenal karena sikapnya yang santai, cerdas, dan malas, Shikamaru pernah dikaitkan dengan sebuah kutipan reflektif:
“Laziness is the mother of all bad habits, but ultimately she is a mother and we should respect her.”
(“Kemalasan adalah ibu dari semua kebiasaan buruk, tetapi pada akhirnya dia adalah ibu, dan kita harus menghormatinya.”)
Meskipun lahir dari konteks budaya yang sangat berbeda, pandangan Epicurus dan Shikamaru bertemu dalam satu titik kebahagiaan dan ketenangan batin sebagai inti kehidupan yang kerap disalahartikan oleh manusia modern.
Makna Hedonisme Menurut Epicurus

Epicurus menolak pandangan bahwa kesenangan harus bersifat berlebihan. Dalam Letter to Menoeceus, ia menegaskan bahwa “pleasure is the beginning and end of the blessed life” kesenangan adalah awal dan akhir dari kehidupan yang baik. Namun, kesenangan yang dimaksud bukan pesta atau kemewahan, melainkan kenikmatan alami yang sederhana makan secukupnya, berbincang dengan sahabat, tidur nyenyak, dan hidup tanpa rasa takut.
Bagi Epicurus, hedonisme bukan berarti hidup berfoya-foya, melainkan hidup dengan kesadaran akan batas kebutuhan. Ia membagi kenikmatan menjadi tiga jenis:
- Kebutuhan alami dan perlu, seperti makan, minum, dan persahabatan.
- Kebutuhan alami namun tidak perlu, seperti makanan mahal dan kemewahan kecil.
- Kebutuhan tidak alami dan tidak perlu, seperti kekuasaan, ambisi, dan harta berlebih.
Manusia bijak, menurutnya, adalah mereka yang mampu membedakan ketiganya. Epicurus tidak menolak kesenangan, tetapi mengarahkannya agar tidak melahirkan penderitaan baru. Dalam konteks modern, hedonisme sering kehilangan ruh reflektif ini berubah menjadi sekadar pelarian dari kekosongan batin. Epicurus justru ingin mengembalikan makna hedonisme sebagai seni menikmati hidup dengan tenang dan sadar, bukan mengejar kenikmatan secara membabi buta.
Shikamaru Nara dan Kemalasan sebagai Refleksi Kesadaran

Berbeda konteks namun sejiwa dalam semangatnya, Shikamaru Nara menggambarkan kemalasan bukan sebagai dosa moral, melainkan bentuk kejujuran eksistensial. Ia menyadari bahwa kehidupan yang terlalu sibuk dan kompetitif hanya melahirkan kelelahan batin. Dengan berpikir sebelum bertindak dan memilih diam ketimbang ikut arus, Shikamaru menunjukkan bahwa kemalasan yang disadari adalah bentuk pengendalian diri.
Dalam psikologi modern, kemalasan dapat dipahami sebagai mekanisme pemulihan energi tubuh dan pikiran. Sementara secara filosofis, sikap Shikamaru mendekati prinsip ataraxia Epicurus keadaan damai yang dicapai ketika seseorang hidup sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Ia malas bukan karena bodoh, tetapi karena bijak melihat bahwa hidup tidak harus selalu produktif untuk menjadi bermakna.
Ketenangan sebagai Esensi Hidup
Baik Epicurus maupun Shikamaru sama-sama mengkritik dunia yang dipenuhi tekanan, ambisi, dan hasrat yang tak pernah puas. Epicurus menolak kesenangan palsu yang berujung penderitaan, sementara Shikamaru menolak kerja berlebihan yang menguras jiwa. Dari keduanya, muncul nilai universal: kebahagiaan sejati lahir dari kesadaran diri dan kemampuan menikmati kesederhanaan.
Kemalasan Shikamaru merupakan cerminan dari hedonisme reflektif ala Epicurus bukan keinginan untuk berhenti hidup, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dari kesibukan yang tak bermakna. Ia adalah bentuk kebijaksanaan modern: menikmati waktu, keheningan, dan jeda sebagai ruang untuk memahami diri sendiri.
Kesimpulan
Hedonisme menurut Epicurus bukan pesta pora, melainkan pembebasan dari penderitaan melalui kesadaran akan batas kebutuhan manusia. Sementara kemalasan Shikamaru bukan kelemahan, melainkan strategi eksistensial untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban dan ketenangan batin.
Keduanya mengajarkan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang penuh kesibukan, melainkan hidup yang tahu kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat.
Baik di taman filsafat Yunani Kuno maupun di dunia shinobi, Epicurus dan Shikamaru sama-sama mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kesederhanaan, kesadaran, dan keberanian untuk tenang di tengah hiruk-pikuk dunia.
Penulis : Jorly Tindage
Editor : Aksararaya