
Sesadar ini—
tiba pada saatnya seseorang mulai beralih
dari aktivitas yang tak biasa.
Yang dulu melawan
norma-norma buatan,
kini lebih menonjolkan
simbol syukur.
Terkuras habis dayaku
pada negeri ini,
bersama segala upaya
yang pernah ditinggalkan.
Lorong-lorong sempit,
sunyi,
namun tanahnya berisik—
menjerit,
menguliti diri.
Di sanalah aku berdiri:
menjadi seseorang yang biasa,
dengan lapisan tisu erat
di tangan kiri,
sekadar membasuh
luapan air mata.
Sampai pada jalan
tanpa hujung,
cahaya revolusi
kian redup,
menganggap semuanya
percuma.
Dan kita pun kembali
seperti semula—
mengenal semesta
dan agama
sebagai pencetus hikaya
yang patut disyukuri.
Lalu mati,
dengan beban
sebagai manusia merdeka.
Penulis: Jorly Tindage
Editor : Aksararaya